SELAMAT DATANG DI "ISLAM AGAMAKU DAN AGAMAMU" KLIK BENDERA UNTUK PILIH BAHASA"
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, 11 June 2015

Menanti Bulan Ramadhan 1436 H (Bulan Penuh Berkah)


Tinggal beberapa hari lagi kita akan melaksanakan "Ibadah Puasa" dibulan Ramdahan . Bulan di mana segala kebaikan dan keberkahan, segala amal dilipat gandakan, dijanjikan ampunan dan rahmat bagi siapa yang akan menyambutnya dengan penuh keimanan dan harapan yang hanya disandarkan kepada Allah SWT.

Banyak orang melakukan Segala persiapan pun dilakukan untuk menyambut kedatangannya bulan Ramdhan 1436 H. Kehadirannya yang dinanti karena disamping keangungannya, bulan itu hadir hanya setahun sekali. Dialah bulan suci Ramadhan.


يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. (البقرة : ١٨٣

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)
Bulan di mana diturunkannya Al-Qur’an yang senantiasa dinanti dan dirindu, memiliki banyak keistimewaan dan keberkahan yang tidak akan diperoleh di bulan lainnya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَايَدْخُلُهٗ اِلاَّ الصَّائِمُوْنَ وَهُوَمَوْعُوْدٌ بِلِقَاءِاللهِ تَعَالَى فِى جَزَآءِ صَوْمِهٖ (رواه البخارى ومسلم

“Surga itu mempunyai pintu yang disebut Rayyan, dimana pintu itu tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa, dan ia diberi janji untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam balasan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ramadhan Bulan Penuh Pahala

Setidaknya, ada dua sikap yang dilakukan orang dalam menyambut dan menghadapi bulan dilipatgandakannya pahala dan diampuni segala dosa-dosanya. Sikap pertama adalah gembira dan penuh suka cita. Sikap ini dimiliki oleh orang-orang memahami makna dan kandungan yang terdapat di bulan kesembilan pada tahun Hijriyah. Baginya Ramadhan adalah kesempatan yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan kepada mereka yang dikehendaki untuk mempertebal iman sebagai bekal spiritual dan bertaubat atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan. Ramadhan baginya adalah ladang meraih diskon dan banjir bonus besar-besaran.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim)
Bagi orang yang mengetahui keistimewaan pada bulan yang dikenal dengan bulan kesabaran itu, niscaya dia menginginkan sepanjang tahun menjadi Ramadhan semua. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam:


لَوْيَعْلَمُ مَافِى هٰذَاالشَّهْرِ مِنَ الْخَيْرَاتِ لَتَمَنَّتْ اُمَّتِى اَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا (رواه الطبرانى

 “Seandainya umatku mengerti kebaikan-kebaikan yang ada di bulan ini (Ramadhan), niscaya umatku mengharapkan dalam setahun menjadi Ramadhan semuanya.” (HR. Ath-Thabrani)

Di samping itu, mereka yang bergembira akan kedatangan bulan penuh mulia itu jelas paham benar apa yang akan mereka raih selain bonus pahala dari amal yang diperbuat mereka dirindu kedatangannya oleh syurga dan diharamkan jasadnya masuk neraka.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى اَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْاٰنِ وَحَافِظِ الِّلسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

Bersabda Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Salam : “ Syurga itu rindu kepada empat golongan, yaitu : 1. Pembaca Al-Quran 2. Penjaga lisan 3. Pemberi makan kepada orang yang lapar dan 4. Orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. (Al-Hadits)

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهٗ عَلَى النِّيْرَانِ

Artinya : “Barang siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya masuk Neraka. (Al-Hadits)

Bahkan yang paling mengesankan mereka yang bersuka cita terhadap datangnya Ramadhan adalah Allah Subhana wa Ta’ala sendiri yang akan membalasnya.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اٰدَمَ لَهٗ اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهٗ لِى وَاَنَا اَجْزِى بِهٖ

Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk Ku dan Akulah yang akan membalasnya. (Al-Hadits)

Berbeda halanya dengan sikap yang kedua. Sikap ini sangat berbanding terbalik dengan yang pertama. Mereka menyambut Ramadhan dengan sikap dingin dan penuh kebencian. Baginya Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan lainnya dan menganggap bulan itu sebagai penghambat melakukan perbuatan yang biasa mereka lakukan di hari biasanya. Mereka merasa terkungkung/terbatas dan merasa diawasi  pada bulan itu.

Mereka merasa risih dan gelisah melihat orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka melihat orang-orang mengisi hari-harinya senantiasa beribadah, pulang pergi ke masjid, membaca al-Qur’an dan menebar kebaikan merupakan pemandangan yang memuakkan dan tidak ada manfaatnya. Karena syetan telah mengehmbuskan kebencian dalam hatinya, hingga Ramadhan dianggapnya sebagai neraka.

Orang-orang seperti ini adalah orang yang merugi, betapa tidak mereka tidak mengetahui manfaat dan keistimewaan dari bulan suci Ramadhan sendiri.


Persiapan Untuk MenyambutBulan Ramdhan

Mengetahui banyaknya bonus pahala yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan kepada hambanya, sangat disayangkan jika kita melewatkan begitu saja momen tersebut, minimalnya meningkatkan kualitas ibadah kita. Ibadah yang kita lakukan dikala bulan yang penuh rahmat tersebut akan dilipat gandakan pahala dan ditambahkannya rizeki bagi orang-orang mukmin. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, bersabda :

وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَشَهْرٌ اَوَّلُهٗ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهٗ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهٗ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ.(رواه ابن حزيمة

Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan di awalnya menjadi rahmat, di tengahnya menjadi ampunan dan di akhirnya merupakan kebebasan dari neraka.(HR. Ibnu Huzaimah)

Betapa mulianya bulan di mana diturunkannya Al-Qur’an sehingga para sahabat berdoa kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya. Mereka juga berdoa agar Allah Subahana wa Ta’ala menerima amal perbuatan mereka enam bulan setelahnya.

Jika diibaratkan sebuah klub sepak bola, mereka akan mempersiapkan tim dengan sebaik-sebaiknya sebelum pertandingan dimulai. Karena semakin optimal persiapan yang dilakukan maka otomatis semakin optimis mereka untuk meraih kemenangan dengan usaha yang mereka lakukan. Begitu juga halnya dengan Ramadhan untuk memperoleh semua keberkahan, rahmat dan ampunan hendaknya setiap Muslim mempersiapkan dengan matang segala sesuatunya untuk meraih semua yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan lewat bulan penuh berkah tersebut.

Kesibukan dalam hal duniwi hendaknya tidak lagi mengganggu aktivitas kita kelak pada bulan Ramadhan. Karena itu persiapan pun dianggap penting dilakukan bagi Muslim, diantanya adalah:

Pertama adalah persiapan mental (ruhiyah). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam memberikan tauladan bagi umatnya dalam mempersiapkan diri menyamabut Ramadhan.
Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).
Memperbanyak ibadah seperti qiyamul lail, puasa-puasa sunnah dan lainnya sebagainya pada bulan sebelumnya, Sya’ban adalah sangat penting. Hal ini dilakukan sebagai pemanasan (pembiasaan). Jika kita ibaratkan sebuah tim sepak bola yang akan menghadapi musuhnya dilahan hijau tentunya yang mereka lakukan adalah pemanasan. Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan yang membuat pertandingan tidak berjalan semestinya, seperti gangguan keseimbangan, keseleo, tejang otot dan lain sebagainya.

Kedua, persiapan jasadiyah. Allah Subhana wa Ta’la sangat mencintai Muslim yang kuat daripada Muslim yang lemah. Ini sangat menentukan seseorang dapat meraih secara optimal apa yang Allah limpahkan kepada kita.

Ketiga, persiapan maliyah (keuangan). Persiapan yang dimaksud bukan diperuntukkan untuk foya-foya, karena sudah menahan lapar dan dahaga kemudian setelah iftor (berbuka) segala macam dilahap. Persiapan tersebut digunakan untuk melipatgandakan pahala dalam sedekah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Barang siapa yang memberikan ifthor (berbuka) kepada orang yang berpuasa , maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”  (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Persiapaan yang kempat adalah persiapan fikriyah. Untuk mendapatkan Ramadhan dengan bonus full tanpa batas tentunya kita mesti mengetahui syarat dan ketentuan yang berlaku, itu semua didapatkan dari seberapa besar kita mengetahui wawasan ilmu tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Demikianlah Allah Subahana wa Ta’ala terangkan melalaui ayat-ayatnya sebagai petunjuk bagi hamba-Nya dan mengirimkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam sebagai panutan untuk membimbing umatnya. Keduanya sebagai penunjuk arah kita untuk selamat dunia-akhirat, jika kita mempergunakannya. Dan pilihan ada di tangan kita, dengan segala keberkahan dan keagungan Ramadhan, sudah sejauh mana persiapan kita untuk menyambutnya.


Tuesday, 30 December 2014

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam

Berikut ini dipaparkan Ustadz Ahmad Sarwat saat menjawab berbagai pertanyaan mengenai hukum merayakan tahun baru Masehi dan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang islami.
Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru Masehi. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.

1. Pendapat yang Mengharamkan

Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.
a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir
Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.
Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa.
Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.
b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir
Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”
c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat
Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.
Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.
d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bid’ah
Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.
Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.
Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar’inya.

2. Pendapat yang Menghalalkan

Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.
Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?
Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.
Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.
Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.
Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.
Demikianlah ringkasan singkat tentang perbedaan pandangan dari beragam kalangan tentang hukum umat Islam merayakan malam tahun baru.

Hari Raya Umat Islam Hanya ada Dua

Dalam agama Islam, yang namanya hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha. Selebihnya, tidak ada pensyariatannya, sehingga sebagai muslim, tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru.
Namun ketika harus menjawab, apakah bila ikut merayakannya akan berdosa, tentu jawabannya akan menjadi beragam. Yang jelas haramnya adalah bila mengikuti perayaan agama tertentu. Hukumnya telah disepakati haram. Artinya, seorang muslim diharamkan mengikuti ritual agama selain Islam, termasuk ikut merayakan hari tersebut.
Maka semua bentuk Natal bersama, atau apapun ritual agama lainnya, haram dilakukan oleh umat Islam. Dan larangannya bersifat mutlak, bukan sekedar mengada-ada.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 7 Maret tahun 1981/ 1 Jumadil Awwal 1401 H telah mengeluarkan fatwa haramnya natal bersama yang ditanda-tangani oleh ketuanya KH M. Syukri Ghazali. Salah satu kutipannya adalah:
  • Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  • Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
  • Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegitan-kegiatan Natal.
Namun bagaimana dengan perayaan yang tidak terkait unsur agama, melainkan hanya terkait dengan kebiasaan suatu masyarakat atau suatu bangsa?
Sebagian kalangan masih bersikeras untuk mengaitkan perayaan datangnya tahun baru dengan kegiatan bangsa-bangsa non-muslim. Dan meski tidak langsung terkait dengan masalah ritual agama, tetap dianggap haram. Pasalnya, perbuatan itu merupakan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, meski tidak terkait dengan ritual keagamaan. Mereka mengajukan dalil bahwa Rasulullah SAW melarang tasyabbuh bil kuffar
Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyerupa suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka. (HR Abu Daud)
Dari Abdullah bin Amr berkata bahwa orang yang mendirikan Nairuz dan Mahrajah di atas tanah orang-orang musyrik serta menyerupai mereka hingga wafat, maka di hari kiamat akan dibangkitkan bersama dengan mereka.
Tasyabbuh di sini bersaifat mutlak, baik terkait hal-hal yang bersifat ritual agama ataupun yang tidak terkait.
Namun sebagian kalangan secara tegas memberikan batasan, yaitu hanya hal-hal yang memang terkait dengan agama saja yang diharamkan buat kita untuk menyerupai. Sedangkan pada hal-hal lain yang tidak terkait dengan ritual agama, maka tidak ada larangan. Misalnya dalam perayaan tahun baru, menurut mereka umumnya orang tidak mengaitkan perayaan tahun baru dengan ritual agama. Di berbagai belahan dunia, orang-orang melakukannya bahkan diiringi dengan pesta dan lainnya.Tetapi bukan di dalam rumah ibadah, juga bukan perayaan agama.
Dengan demikian, pada dasarnya tidak salah bila bangsa itu merayakannya, meski mereka memeluk agama Islam.
Namun lepas dari dua kutub perbedaan pendapat ini, paling tidak buat kita umat Islam yang bukan orang Barat, perlu rasanya kita mengevaluasi dan berkaca diri terhadap perayaan malam tahun baru.
Pertama, biar bagaimana pun perayaan malam tahun baru tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW. Kalau pun dikerjakan tidak ada pahalanya, bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai bid’ah dan peniruan terhadap orang kafir.
Kedua, tidak ada keuntungan apapun secara moril maupun materil untuk melakukan perayaan itu. Umumnya hanya sekedar latah dan ikut-ikutan, terutama buat kita bangsa timur yang sedang mengalami degradasi pengaruh pola hidup western. Bahkan seringkali malah sekedar pesta yang membuang-buang harta secara percuma
Ketiga, bila perayaan ini selalu dikerjakan akan menjadi sebuah tradisi tersendir, dikhawatirkan pada suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kewajiban, bahkan menjadi ritual agama. Padahal perayaan itu hanyalah budaya impor yang bukan asli budaya bangsa kita.
Keempat, karena semua pertimbangan di atas, sebaiknya sebagai muslim kita tidak perlu mentradisikan acara apapun, meski tahajud atau mabit atau sejenisnya secara massal. Kalaulah ingin mengadakan malam pembinaan atau apapun, sebaiknya hindari untuk dilakukan pada malam tahun baru, agar tidak terkesan sebagai bagian dari perayaan. Meski belum tentu menjadi haram hukumnya.

Jalan Tengah Perbedaan Pendapat

Para ulama dengan berbagai latar belakang kehidupan, tentunya punya niat baik, yaitu sebisa mungkin berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa, agar umat tidak terperosok ke jurang kemungkaran.
Salah satu bentuk polemik tentang masalah perayaan itu adalah ditetapkannya hari libur atau tanggal merah di hari-hari raya agama lain. Yang jadi perdebatan, apakah bila kita meliburkan kegiatan sekolah atau kantor pada tanggal 25 Desember itu, kita sudah dianggap ikut merayakannya?
Sebagian berpendapat bahwa kalau cuma libur tidak bisa dikatakan sebagai ikut merayakan, lha wong pemerintah memang meliburkan, ya kita ikut libur saja. Tapi niat di dalam hati sama sekali tidak untuk merayakannya.
Namun yang lain menolak, kalau pada tanggal 25 Desember itu umat Islam pakai acara ikut-ikutan libur, suka tidak suka, sama saja mereka termasuk ikut merayakan hari raya agama lain. Maka sebagian madrasah dan pesantren memutuskan bahwa pada tanggal itu tidak libur. Pelajaran tetap berlangsung seperti biasa.
Sekarang begitu juga, ketika pada tanggal 1 Januari ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari libur nasional, muncul juga perbedaan pendapat. Bolehkah umat Islam ikut libur di tahun baru? Apakah kalau ikut libur berarti termasuk ikut merayakan hari besar agama lain?
Lalu muncul lagi alternatif, dari pada libur diisi dengan acarahura-hura, mengapa tidak diisi saja dengan kegiatan keagamaan yang bermanfaat, seperti melakukan pengajian, dzikir atau bahkan qiyamullail. Anggap saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Dan hasilnya sudah bisa diduga dengan pasti, yaituakan ada kalangan yang menolak mentah-mentah kebolehannya. Mereka mengatakan bahwa pengajian, dzikir atau qiyamullaih di malam tahun baru adalah bid’ah yang diada-adakan, tidak ada contoh dari sunnah Rasulullah SAW.
Lebih parah lagi, ada yang bahkan lebih ektrem sampai mengatakan kalau malam tahun baru kita mengadakan pengajian, dzikir, atau qiyamullail, bukan sekedar bid’ah tetapi sudah sesat dan masuk neraka. Wah…
Jadi semua itu nanti akan kembali kepada paradigma kita dalam memandang, apakah kita akan menjadi orang yang sangat mutasyaddid, mutadhayyiq, ketat dan terlalu waspada? Ataukah kita akan menjadi mutasahil, muwassi’, longgar dan tidak terlalu meributkan?
Kedua aliran ini akan terus ada sepanjang zaman, sebagaimana dahulu di masa shahabat kita juga mengenal dua karakter ini. Yang mutasyaddid diwakili oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dan beberapa shahabat lain, sedang yang muwassa’ diwakili oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan lainnya.
Insya Allah, ada jalan tengah yang sekiranya bisa kita pertimbangkan. Misalnya, kalau dasarnya memang tidak ada budaya atau kebiasaan untuk bertahun baru dengan kegiatan semacam pengajian dan sejenisnya, sebaiknya memang tidak usah digagas sejak dari semula. Biar tidak menjadi bid’ah baru.
Akan tetapi kalau kita berada pada masyarakat yang sudah harga mati untuk merayakan tahun baru, suka tidak suka tetap harus ada kegiatan, mungkin akan lain lagi ceritanya. Tugas kita saat itu mungkin boleh saja sedikit berdiplomasi. Misalnya, tidak ada salahnya kalaukitamengusulkan agar acaranya dibuat yang positif seperti pengajian.
Dari pada kegiatannya dangdutan, begadang semalam suntuk atau konser musik, kan lebih baik kalau digelar saja dalam bentuk pengajian. Anggaplah sebagai proses menuju kepada pemahaman Islam yang lebih baik nantinya, tetapi dengan cara perlahan-lahan.
Kalau kita tidak bisa menghilangkan budaya yang sudah terlanjur mengakar dengan sekali tebang, maka setidaknya arahnya yang dibenarkan secara perlahan-lahan. Kira-kira ide dasarnya demikian.
Tetapi yang kami sebut sebagai jalan tengah ini bukan berarti harga mati. Ini cuma sebuah pandangan, yang mungkin benar dan mungkin juga tidak. Namanya saja sekedar pendapat. Tetap saja menyisakan ruang untuk berbeda pendapat. Dan mungkin suatu ketika kami koreksi ulang.

MENGENAL ISLAM

Mengenal Islam

islamSebuah Kenikmatan yang terbesar adalah ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang yang beragama islam. Yang tidak ada kebahagian didunia dan diakhirat kecuali dengan memeluk agama islam, agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah hanyalah islam yang tidak diterima selain dari agama islam.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ
“ Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah islam “ (Qs. Ali Imran : 19)
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا
 “ Pada hari ini telah ku sempurnkan untuk kamu agamamu, dan telah ku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah ku ridhai islam sebagai agama bagimu “ (Qs. Al Maidah : 3)

أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“ Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain Agama Allah, padahal apa yang dilangit dan dibumi berserah diri kepada – Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Nya mereka dikembalikan? (Qs. Ali Imran : 83)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“ Dan barangsiapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima dan diakhirat dia termasuk orang yang merugi ” (Qs. Ali Imran : 85)
وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“ Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Qs. Ali Imran : 102)
Inilah nikmat yang terbesar dan teragung yang Allah berikan kepada kita yang harus kita jaga, yaitu kita dijadikan sebagai seorang muslim. Yang tidak ada kebahagian didunia dan akhirat kecuali dengan memeluk agama islam. Maka wajib bagi kita untuk mengenal dan memahami agama islam dengan pemahaman yang benar. Bahkan hal itu sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang muslim dan muslimah.
Lalu apa itu pengertian islam ? Islam adalah : “ Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, tunduk kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya “ (Kitab Al Ushulus Tsalah, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Inilah pengertian islam yang harus kita pahami, yaitu mengandung tiga hal.
Pertama : “ Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya
Yaitu berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan Nya didalam rububiyahNya (penciptaan, pemberi rezeki dan pengaturan), didalam uluhiyahNya (menyerahkan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata) dan didalam asma (nama-nama) dan sifatNya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah semata
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Dari pengertian diatas keluarlah dua kelompok manusia :
Kelompok pertama adalah Orang yang berserah diri kepada Allah dan juga berserah diri kepada selain Allah. Yaitu dia berserah diri kepada Allah disatu sisi dengan beribadah kepada Nya seperti sholat, puasa dan ibadah lainnya, tapi disisi lain dia juga beribadah kepada selain Allah dengan menyembah kuburan misalnya, atau berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih hewan untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada selain Allah. Maka orang seperti ini bukanlah orang islam akan tetapi orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman :
وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
” Dan diadakanya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Nya, katakanlah, “ bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu, sungguh kamu termasuk penghuni neraka.” ( Qs. Az-Zummar : 8 )
ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatu dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“ Sungguh orang – orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk ) neraka jahannam, mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk “ ( Qs. Al Bayyinah : 6)
Kelompok kedua adalah Orang yang tidak berserah diri kepada Allah dan juga kepada selain Allah, meraka itu adalah orang – orang kafir, seperti fir’aun pada masa lalu dan atheis pada zaman sekarang. (silahkan lihat muqadimah duruus Nawaqid al-Islam, Syaikh Shlih al-Fauzan)
Adapun seorang Muslim adalah orang yang berserah diri hanya kepada Allah semata dengan beribadah hanya kepadaNya dan tidak kepada selainNya.
Kedua : Tunduk Kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada Nya.
Tidak cukup seseorang hanya mengatakan dirinya berserah diri kepada Allah tanpa ada ketaatan kepada Nya. Bahkan wajib bagi dia untuk tunduk kepada Allah dengan ketundukkan hati, lisan dan anggota badanya. Dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya, seperti melaksanakan sholat lima waktu, shaum (puasa) pada bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan ketaatan lainnya. Para Ulama membagi ketundukkan menjadi dua macam :
Berkata Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafidzahullah : “ Tunduk kepada Allah dan ketundukkan ini jika dengan dzhiran (lahiriah/anggota badan) dan ketundukkan bathin (hati) maka itu adalah amalan orang-orang yang beriman. Dan jika hanya tunduk dengan ketundukkan dzhair saja maka itu adalah perbuatan seorang munafik. Akan tetapi ketundukkan yang benar yaitu mencakup ketundukkan dzahir dan bathin.”(Ithaful Uquul bi syarh ats – Tsalasatil Ushuul :95)
Ketiga : Berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya
Yaitu berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah dan para pelakunya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim alaihi wasallam :
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “ Sesunguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah : 4 )
Inilah penjelasan sederhana tentang kewajiban seorang hamba mengenal agamanya. Dengan  tujuan dari pengenalan tersebut yang membuahkan dari mengamalkan syariat islam. Karena islam adalah agama yang haq (benar) yang Allah meridhainya untuk kita, dan kita beribadah kepada Allah dengan menjalankan syariat islam.
ditulis oleh  Abu Ibrahim ‘Abdullah Bin Mudakir

Monday, 27 October 2014

"Gadis Cantik Tetapi Buta,Pekak dan Lumpuh"


Wanita solehah, yang merupakan wanita pilihan yang tidak terdedah kepada lelaki yang bukan mahram, diumpamakan seperti bidadari yang dipingit di dalam khemah-khemah. Wanita sebegini akan menjadi penghuni syurga, sebagaimana kisah ibunya Syeikh Abdul Qadir Jailani.

 

Syeikh Abdul Qadir Jailani hasil dari percantuman benih Abu Saleh Janghidost dgn Fatimah. Abu Saleh adalah seorang pemuda yang sangat cinta kepada Allah. Kewarakannya boleh dilihat dari sejarah hidupnya.MENGAMBIL YANG BUKAN HAK MILIK SENDIRISebelum bertemu jodoh dengan Fatimah, pada suatu hari, seperti biasa Abu Saleh duduk di tepi sungai bertafakur. Kemudian perutnya terasa sangat lapar kerana sudah lama tidak makan. Kebetulan waktu itu dilihatnya sebiji epal sedang terapung-apung di sungai. Lalu diambilnya dan dimakan. Semasa sedang mengunyah, maka teringatlah dia bahawa epal tersebut tentu hak milik orang. Abu Saleh merasai dirinya telah melakukan dosa kerana memakan buah epal tersebut tanpa meminta izin daripada pemiliknya terlebih dahulu.Atas rasa takut kepada Allah, Abu Salleh menyusuri hulu sungai tersebut semata-mata untuk mencari tuan punya epal itu bagi meminta maaf (halal). Setelah berhari-hari berjalan tanpa sebarang bekalan makanan, akhirnya Abu Saleh menjumpai sebatang pokok epal dan yakinlah dia bahawa epal yang dimakan tempoh hari adalah dari pokok itu. Tanpa membuang masa, Abu Saleh terus pergi berjumpa dengan tuan punya pokok epal itu, iaitu Abdullah Saumi yang berketurunan Imam Hussin R.A.Abdullah Saumi mengenali kewarakan Abu Saleh yang begitu luhur dan berkeyakinan beliau dari keturunan yang baik. Melihat perangai dan akhlak Abu Saleh yang begitu luhur dan mulia, Abdullah Saumi telah jatuh hati dan tidak sanggup berpisah dengan pemuda itu. Lalu Abdullah Saumi membuat helah akan memaafkan kesalahan Abu Saleh tetapi dengan bersyarat. Syaratnya, Abu Saleh mesti berkhidmat dengan beliau selama 12 tahun untuk menguruskan kebun epalnya. Abu Saleh telah menerima hukuman itu dan bekerjalah ia dengan taat selama tempoh tersebut.MENGAHWINI GADIS BUTA, PEKAK, DAN LUMPUHSetelah 12 tahun, Abdullah Saumi mengadakan syarat lagi bahawa beliau rela memaafkan kesalahan Abu Saleh sekiranya Abu Saleh sanggup mengahwini anak perempuannya yang buta matanya, pekak telinganya dan lumpuh kedua-dua tangannya serta kakinya. Kemudian mereka mesti tinggal di situ bagi tempoh 2 tahun lagi bagi membolehkan beliau melihat cucunya. Syarat tersebut sungguh berat, tetapi demi mencari keredhaan Allah, diturutinya juga.Setelah diakad nikah maka masuklah Abu Saleh ke dalam bilik anak perempuan Abdullah Saumi yang sudah sah menjadi isterinya. Alangkah terkejutnya Abu Saleh apabila mendapati wanita di hadapannya mempunyai rupa paras yang sangat jelita dan tidak cacat. Lantaran itu, tidak mahu didekatinya wanita tersebut kerana disangka bukan isterinya.Abu Saleh segera menemui Abdullah Saumi. Akhirnya orang tua itu menerangkan hakikat kata katanya kepada Abu Saleh."Aku katakan anak perempuanku itu buta matanya kerana dia tidak pernah memandang lelaki yang bukan muhrimnya, pekak telinganya kerana tidak pernah mendengar kata-kata yang tidak benar, lumpuh kedua-dua tangannya kerana tidak pernah menyentuh perkara-perkara yang diharamkan, dan lumpuh kedua-dua kakinya kerana tidak pernah melangkah ke tempat-tempat mungkar."Selepas itu barulah Abu Saleh mahu menyentuh isterinya. Dan hasil daripada perkahwinan pemuda yang wara’ dengan isterinya yang solehah itu, maka lahirlah seorang anak yang akhirnya membesar menjadi seorang wali Allah yang masyhur dan tinggi ilmunya, iaitulah Syeikh Abdul Qadir Jailani.MUTIARA INDAHDemikianlah mutiara indah para wanita solehah, yang betul-betul mencontohi bidadari-bidadari di syurga. Mereka seolah-olah wanita pingitan yang tidak mendedahkan diri dan auratnya di hadapan lelaki bukan mahram. Tidak memandang kepada lelaki dan tidak dipandang oleh lelaki. Memelihara kesucian dirinya daripada terdedah kepada yang bukan mahram…Notakaki: Secara syara'nya, buah epal yang telah jatuh ke dalam sungai lalu dihanyutkan air itu sememangnya boleh dimakan tanpa perlu minta izin kerana ianya sudah berada di luar kawasan tuan rumah. Namun disebabkan peribadinya yang amat wara’, maka Abu Saleh merasa bersalah lalu berusah mencari tuan pemilik epal tersebut bagi tujuan meminta maaf. Sikap begini adalah sangat mulia dan wajar dicontohi. Lihatlah balasan setimpal yang diterimanya – seorang yang soleh akhirnya pasti akan mendapat pasangan yang solehah. Oleh itu berusahalah terlebih dahulu untuk memperbaiki akhlaq diri… Dan kepada ibubapa yang mempunyai anak perempuan, ujilah terlebih dahulu pasangan anak anda untuk menilai sejauh mana keikhlasan lelaki tersebut…

TEKA-TEKI IMAM GHAZALI




Bismillaahirrah maanirrahiim…
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya
>>Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : “Orang tua”
Murid 2 : “Guru”
Murid 3 : “Teman”
Murid 4 : “Kaum kerabat”
Imam Ghazali : “Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185).
>>Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : “Negeri Cina”
Murid 2 : “Bulan”
Murid 3 : “Matahari”
Murid 4 : “Bintang-bintang”
Iman Ghazali “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
>>Iman Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : “Gunung”
Murid 2 : “Matahari”
Murid 3 : “Bumi”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
>>Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : “Baja”
Murid 2 : “Besi”
Murid 3 : “Gajah”
Imam Ghazali : “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan , binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
>>Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : “Kapas”
Murid 2 : “Angin”
Murid 3 : “Debu”
Murid 4 : “Daun-daun”
Imam Ghazali : “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “
>>Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab : “Pedang”
Imam Ghazali : “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
*Semoga bermanfaat,,:)*

Ayah … Engkau Lebih Berharga Dari Uang Itu..



Salah satu da’i berkata, “Ada seorang laki-laki memiliki hutang, dan pada suatu hari datanglah kepadanya pemilik hutang, kemudian mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu mendorong masuk tanpa salam dan penghormatan, lalu memegang kerah baju pemilik rumah seraya berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu, sungguh aku telah bersabar lebih dari seharusnya, kesabaranku sekarang telah habis, sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu hai laki-laki?!
Pada saat itulah sang anak ikut campur, sementara air mata mengalir dari kedua matanya saat dia melihat ayahandanya ada pada kondisi terhina seperti itu.
Dia berkata,”Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?’
Dia menjawab,”Tujuh puluh ribu real.”
Berkata sang anak,”Lepaskan ayahku, tenanglah, bergembiralah, semua akan beres.”
Lalu masuklah sang anak kekamarnya, dimana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu Real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Akan tetapi dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu di lemari pakaiannya. Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik hutang, “Ini pembayaran dari hutang ayahku, nilainya 27 ribu Real, nanti akan datang rizki, dan akan kami lunasi sisanya segera dalam waktu dekat Insya Allah.”
Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.
Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu, segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi, seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”
Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesegukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”
Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melaksanakan tugas pekerjaannya, salah seorang sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya datang menziarahinya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabat tadi bertanya,
“Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”
Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata,
“Mudah-mudahan ini adalah do’a ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya.”
Maka dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla. Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata,
“Inilah laki-laki yang tengah kucari.”
Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu?”
Dia menjawab, “Mendekati 5 ribu Real.”
Dia berkata, “Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu, gajimu 15 ribu Real, bonus 10% dari laba, dua kali gaji sebagai tempat dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu.”
Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah wahai ayahku.”
Manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Maka pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Maka manajer itu pun memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Adalah hasil dari labanya pada tahun pertama, tidak kurang dari setengah milyar Real Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar, dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung.
Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]
Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]
Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.
Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.
Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam

Oleh: Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi Hafizhahullah