SELAMAT DATANG DI "ISLAM AGAMAKU DAN AGAMAMU" KLIK BENDERA UNTUK PILIH BAHASA"
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label PUASA. Show all posts
Showing posts with label PUASA. Show all posts

Thursday, 11 June 2015

Menanti Bulan Ramadhan 1436 H (Bulan Penuh Berkah)


Tinggal beberapa hari lagi kita akan melaksanakan "Ibadah Puasa" dibulan Ramdahan . Bulan di mana segala kebaikan dan keberkahan, segala amal dilipat gandakan, dijanjikan ampunan dan rahmat bagi siapa yang akan menyambutnya dengan penuh keimanan dan harapan yang hanya disandarkan kepada Allah SWT.

Banyak orang melakukan Segala persiapan pun dilakukan untuk menyambut kedatangannya bulan Ramdhan 1436 H. Kehadirannya yang dinanti karena disamping keangungannya, bulan itu hadir hanya setahun sekali. Dialah bulan suci Ramadhan.


يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. (البقرة : ١٨٣

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)
Bulan di mana diturunkannya Al-Qur’an yang senantiasa dinanti dan dirindu, memiliki banyak keistimewaan dan keberkahan yang tidak akan diperoleh di bulan lainnya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَايَدْخُلُهٗ اِلاَّ الصَّائِمُوْنَ وَهُوَمَوْعُوْدٌ بِلِقَاءِاللهِ تَعَالَى فِى جَزَآءِ صَوْمِهٖ (رواه البخارى ومسلم

“Surga itu mempunyai pintu yang disebut Rayyan, dimana pintu itu tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa, dan ia diberi janji untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam balasan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ramadhan Bulan Penuh Pahala

Setidaknya, ada dua sikap yang dilakukan orang dalam menyambut dan menghadapi bulan dilipatgandakannya pahala dan diampuni segala dosa-dosanya. Sikap pertama adalah gembira dan penuh suka cita. Sikap ini dimiliki oleh orang-orang memahami makna dan kandungan yang terdapat di bulan kesembilan pada tahun Hijriyah. Baginya Ramadhan adalah kesempatan yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan kepada mereka yang dikehendaki untuk mempertebal iman sebagai bekal spiritual dan bertaubat atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan. Ramadhan baginya adalah ladang meraih diskon dan banjir bonus besar-besaran.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim)
Bagi orang yang mengetahui keistimewaan pada bulan yang dikenal dengan bulan kesabaran itu, niscaya dia menginginkan sepanjang tahun menjadi Ramadhan semua. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam:


لَوْيَعْلَمُ مَافِى هٰذَاالشَّهْرِ مِنَ الْخَيْرَاتِ لَتَمَنَّتْ اُمَّتِى اَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا (رواه الطبرانى

 “Seandainya umatku mengerti kebaikan-kebaikan yang ada di bulan ini (Ramadhan), niscaya umatku mengharapkan dalam setahun menjadi Ramadhan semuanya.” (HR. Ath-Thabrani)

Di samping itu, mereka yang bergembira akan kedatangan bulan penuh mulia itu jelas paham benar apa yang akan mereka raih selain bonus pahala dari amal yang diperbuat mereka dirindu kedatangannya oleh syurga dan diharamkan jasadnya masuk neraka.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى اَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْاٰنِ وَحَافِظِ الِّلسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

Bersabda Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Salam : “ Syurga itu rindu kepada empat golongan, yaitu : 1. Pembaca Al-Quran 2. Penjaga lisan 3. Pemberi makan kepada orang yang lapar dan 4. Orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. (Al-Hadits)

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهٗ عَلَى النِّيْرَانِ

Artinya : “Barang siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya masuk Neraka. (Al-Hadits)

Bahkan yang paling mengesankan mereka yang bersuka cita terhadap datangnya Ramadhan adalah Allah Subhana wa Ta’ala sendiri yang akan membalasnya.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اٰدَمَ لَهٗ اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهٗ لِى وَاَنَا اَجْزِى بِهٖ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk Ku dan Akulah yang akan membalasnya. (Al-Hadits)

Berbeda halanya dengan sikap yang kedua. Sikap ini sangat berbanding terbalik dengan yang pertama. Mereka menyambut Ramadhan dengan sikap dingin dan penuh kebencian. Baginya Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan lainnya dan menganggap bulan itu sebagai penghambat melakukan perbuatan yang biasa mereka lakukan di hari biasanya. Mereka merasa terkungkung/terbatas dan merasa diawasi  pada bulan itu.

Mereka merasa risih dan gelisah melihat orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka melihat orang-orang mengisi hari-harinya senantiasa beribadah, pulang pergi ke masjid, membaca al-Qur’an dan menebar kebaikan merupakan pemandangan yang memuakkan dan tidak ada manfaatnya. Karena syetan telah mengehmbuskan kebencian dalam hatinya, hingga Ramadhan dianggapnya sebagai neraka.

Orang-orang seperti ini adalah orang yang merugi, betapa tidak mereka tidak mengetahui manfaat dan keistimewaan dari bulan suci Ramadhan sendiri.


Persiapan Untuk MenyambutBulan Ramdhan

Mengetahui banyaknya bonus pahala yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan kepada hambanya, sangat disayangkan jika kita melewatkan begitu saja momen tersebut, minimalnya meningkatkan kualitas ibadah kita. Ibadah yang kita lakukan dikala bulan yang penuh rahmat tersebut akan dilipat gandakan pahala dan ditambahkannya rizeki bagi orang-orang mukmin. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, bersabda :

وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَشَهْرٌ اَوَّلُهٗ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهٗ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهٗ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ.(رواه ابن حزيمة

Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan di awalnya menjadi rahmat, di tengahnya menjadi ampunan dan di akhirnya merupakan kebebasan dari neraka.(HR. Ibnu Huzaimah)

Betapa mulianya bulan di mana diturunkannya Al-Qur’an sehingga para sahabat berdoa kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya. Mereka juga berdoa agar Allah Subahana wa Ta’ala menerima amal perbuatan mereka enam bulan setelahnya.

Jika diibaratkan sebuah klub sepak bola, mereka akan mempersiapkan tim dengan sebaik-sebaiknya sebelum pertandingan dimulai. Karena semakin optimal persiapan yang dilakukan maka otomatis semakin optimis mereka untuk meraih kemenangan dengan usaha yang mereka lakukan. Begitu juga halnya dengan Ramadhan untuk memperoleh semua keberkahan, rahmat dan ampunan hendaknya setiap Muslim mempersiapkan dengan matang segala sesuatunya untuk meraih semua yang Allah Subahana wa Ta’ala berikan lewat bulan penuh berkah tersebut.

Kesibukan dalam hal duniwi hendaknya tidak lagi mengganggu aktivitas kita kelak pada bulan Ramadhan. Karena itu persiapan pun dianggap penting dilakukan bagi Muslim, diantanya adalah:

Pertama adalah persiapan mental (ruhiyah). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam memberikan tauladan bagi umatnya dalam mempersiapkan diri menyamabut Ramadhan.
Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).
Memperbanyak ibadah seperti qiyamul lail, puasa-puasa sunnah dan lainnya sebagainya pada bulan sebelumnya, Sya’ban adalah sangat penting. Hal ini dilakukan sebagai pemanasan (pembiasaan). Jika kita ibaratkan sebuah tim sepak bola yang akan menghadapi musuhnya dilahan hijau tentunya yang mereka lakukan adalah pemanasan. Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan yang membuat pertandingan tidak berjalan semestinya, seperti gangguan keseimbangan, keseleo, tejang otot dan lain sebagainya.

Kedua, persiapan jasadiyah. Allah Subhana wa Ta’la sangat mencintai Muslim yang kuat daripada Muslim yang lemah. Ini sangat menentukan seseorang dapat meraih secara optimal apa yang Allah limpahkan kepada kita.

Ketiga, persiapan maliyah (keuangan). Persiapan yang dimaksud bukan diperuntukkan untuk foya-foya, karena sudah menahan lapar dan dahaga kemudian setelah iftor (berbuka) segala macam dilahap. Persiapan tersebut digunakan untuk melipatgandakan pahala dalam sedekah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Barang siapa yang memberikan ifthor (berbuka) kepada orang yang berpuasa , maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”  (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Persiapaan yang kempat adalah persiapan fikriyah. Untuk mendapatkan Ramadhan dengan bonus full tanpa batas tentunya kita mesti mengetahui syarat dan ketentuan yang berlaku, itu semua didapatkan dari seberapa besar kita mengetahui wawasan ilmu tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Demikianlah Allah Subahana wa Ta’ala terangkan melalaui ayat-ayatnya sebagai petunjuk bagi hamba-Nya dan mengirimkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam sebagai panutan untuk membimbing umatnya. Keduanya sebagai penunjuk arah kita untuk selamat dunia-akhirat, jika kita mempergunakannya. Dan pilihan ada di tangan kita, dengan segala keberkahan dan keagungan Ramadhan, sudah sejauh mana persiapan kita untuk menyambutnya.


Thursday, 11 September 2014

Keutamaan Puasa Sunnah Senin Dan Kamis


Dahsyatnya Puasa Senin Kamis.
Siapa sih yang tidak ingin awet muda, bebas penyakit, sekaligus selamat dunia akhirat ? Kalau kita ingin mendapatkan semua itu, cobalah berpuasa Senin-Kamis secara teratur.
Kebanyakan dari kita tentunya pernah mendengar puasa Senin Kamis sebagai puasa sunnah di dalam Islam. Namun, berapa yang benar-benar berusaha merutinkan puasa tersebut ?
Kalau hari itu kebetulan ada acara pengajian dan makan-makan, bukannya lebih enak makan-makan ketimbang puasa sunnah ? Kalau pagi itu kebetulan tidak sempat sahur, bukannya lebih nyaman absen puasa dulu ? Bagaimanapun, puasa Senin Kamis itu hanyalah ‘sunnah’ bukan ?
Tak banyak dari kita yang tahu benar hikmah puasa Senin Kamis dari segi spiritual, kesehatan dan keutamaannya di hadapan Allah. Karena itu, dalam rubrik tadzkirah IMSIS kali ini, ada baiknya kita mengupas hikmah puasa Senin Kamis supaya kita lebih semangat menjalaninya.
Alasan utama mengapa puasa Senin Kamis disunahkan dalam Islam ialah karena Rasulullah sering berpuasa di kedua hari tersebut.
Tapi, apa keutamaan Senin dan Kamis ?
Sehubungan dengan hal ini ada 2 hadis dari Rasulullah yg berkenaan dengan pemilihan hari Senin dan Kamis.
Yang pertama, dalam Hadist Riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan bahwa semua amal dibentangkan di hari Senin dan Kamis. Karena itu, sebagai orang beriman, sungguhlah baik bila pada saat malaikat melaporkan amalan kita itu kita tengah berpuasa.
Yang kedua, hari Senin Kamis adalah hari istimewa karena pada hari itulah Rasulullah dilahirkan, menjadi rasul dan mendapat wahyu (HR Muslim).
Jadi terlihat disini bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari istimewa dari sisi religius.
Dari sisi logika, bisa dilihat bahwa hari Senin dan Kamis membagi satu ‘minggu’ menjadi dua bagian yang hampir sama rata. Jadi  kentara sekali bahwa puasa Senin Kamis mempunyai fungsi maintenance atau pemeliharaan. Analoginya mungkin sama dengan pembagian waktu minum obat kala kita sakit. Tentu kita ingat, kala kita sakit, kita sering disuruh minum obat 2x sehari, yaitu 1x di pagi hari dan 1x di malam hari. Kalau dilihat, waktu2 dimana kita disuruh minum obat 2x tersebut membagi kurang lebih hari itu menjadi 3 bagian yang sama. Hal ini berlaku juga dengan Senin dan Kamis yang membagi satu minggu menjadi dua bagian.
Dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis, secara tidak langsung kita melakukan maintenance untuk diri kita secara rutin baik dari segi spiritual maupun jasmani.
Lalu, apakah keutamaan puasa yang berkelanjutan seperti puasa Senin Kamis ini ?
Keutamaan yang pertama ialah karena puasa Senin Kamis melatih kita secara teratur untuk menghindarkan diri dari pekerjaan dosa. Kalau ada latihan efektif untuk ‘anger management’ atau latihan kesabaran, maka itulah puasa. Karena itu, cocoklah jika dikatakan bahwa puasa adalah zakat jiwa, dimana pada saat puasa, kita membuang perangai buruk. Sehingga sesudah puasa, emosi dan spiritual kita menjadi lebih bersih.
”Segala sesuatu itu ada zakatnya,sedang zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu separo kesabaran”.(HR. Ibnu Majah).
Dengan menghilangnya perangai buruk kita, minimal seminggu dua kali, maka bisa juga dikatakan bahwa ”Puasa adalah benteng yg membentengi seseorang dari api neraka yg membara”.{HR.Ahmad dan Baihaqi}.
Keutamaan yang kedua ialah karena puasa Senin Kamis bisa meningkatkan amalan kita. Biasanya, seseorang yang kekenyangan dan keenakan cenderung malas beribadah. Puasa menjadikan kita lebih produktif dalam beribadah karena selain kita tidak lagi dalam posisi keenakan, orang yang berpuasa juga cenderung ingin beribadah ekstra.  Disamping itu, puasa bisa melembutkan hati. Ini karena dengan puasa, kita cenderung lebih berempati dengan orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Karena itu, puasa bisa menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan lebih bertakwa.
Tidaklah salah kalau dalam Quran disebutkan bahwa puasa diperintahkan pada kita dan orang2 sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertakwa (Al Baqarah 183).
Selain dari keuntungan dari segi emosional spiritual seperti yang dijelaskan diatas, puasa juga memiliki keutamaan dari segi kesehatan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini sudah ada banyak riset yang menyimpulkan bahwa puasa yang teratur itu baik untuk kesehatan.
Manfaat kesehatan dari puasa yang paling populer adalah puasa bisa dibilang sebagai cara ampuh untuk membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita. Dalam Islam dan bidang kedokteran, dianjurkan untuk tidak makan berlebihan, karena makanan yang berlebih dan tidak sehat bisa menimbulkan penyakit. Lihat saja masyarakat di negara makmur yang mana makanan berlimpah. Selain tingkat obesitas tinggi, masyarakat negara-negara tersebut banyak yang mengidap diabetes dan jantung yang notabene sering dijuluki sebagai penyakit orang kaya.  Dengan puasa Senin Kamis, paling tidak, dalam dua kali seminggu, kita membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita.
Manfaat lain dari puasa ditinjau dari segi kesehatan yang juga banyak dipopulerkan adalah fungsi pembersihan dan penyembuhan. Dengan istirahatnya sistem
pencernaan kita selama puasa, maka memungkinkan sistem2 lain di tubuh kita untuk bekerja dengan lebih baik, misalnya sistem imunitas. Inilah sebabnya mengapa orang yang sakit atau binatang yang terluka suka menolak makan. Andaikata kita tidak sedang sakit pun, polisi imunitas bekerja keras saat kita puasa. Jika polisi-polisi ini mendeteksi hal-hal yang kira-kira nanti bisa membuat kita sakit atau hal-hal abnormal, seperti tumbuhnya kista atau tumor, maka pada hari kita puasa, mereka bisa memberantasnya.
Sistem detoksifikasi tubuh juga bekerja lebih lancar jika kita tidak menerima asupan lagi. Disini, mungkin kita bisa membayangkan sistem pembersihan tubuh kita seperti pegawai yang kewalahan mengerjakan tugasnya kalau tugas datang bertubi2. Akibatnya, fungsi pembersihan tubuh tidak terkerjakan dengan maksimal dan sangat mungkin luput mengeliminasi beberapa zat-zat yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan berhentinya asupan, maka tugas dari sistem pembersihan tubuh kita menjadi lebih manageable sehingga kinerjanya menjadi lebih maksimal.
Sistem peremajaan juga bekerja dengan maksimal saat kita puasa karena Allah mendesain tubuh kita untuk mengeluarkan hormon yang erat kaitannya dengan anti-aging kala kita puasa. Karena itu tidaklah mengherankan jika pada suatu eksperimen ditemukan bahwa cacing yang berpuasa bisa hidup 19 generasi lebih lama dibanding cacing yang tidak berpuasa. Kalau ada obat anti aging yang ampuh, itulah puasa. Bisa jadi puasa Senin Kamis secara teratur nantinya menjadikan kita awet muda dan bebas penyakit di hari tua.
Lalu bagaimana dengan orang yang sering mengeluhkan tidak bisa bekerja karena kelaparan dan lemas pada saat puasa seperti yg terlihat jelas di Indonesia dimana kinerja orang menjadi turun saat puasa? Jika hal ini terjadi,  bisa jadi kelaparan itu terjadi karena kita tidak bekerja dengan baik atau kurang konsentrasi. Yang jelas, puasa tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap otak dan daya pikir kita. Malahan, sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa puasa malah meningkatkan daya pikir kita.
Masih banyak lagi manfaat kesehatan dari puasa,misalnya puasa bisa  menghindari atau mengurangi diabetes dan penyakit vascular seperti jantung. Yang jelas, kala Sang Pencipta kita mewajibkan kita puasa minimum setahun sekali selama Ramadhan , Dia tahu bahwa puasa itu baik bagi kita. Bayangkan dahsyatnya puasa kala kita bisa merutinkannya seminggu dua kali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Walaupun begitu, perlu diingat dan digarisbawahi bahwa semua amal tergantung niat. Jika niat puasa kita hanyalah dari segi kesehatan, maka itulah yang kita dapat. Namun kala niat puasa kita adalah dalam rangka meningkatkan kualitas spiritualitas kita dan mendekatkan diri pada Allah maka tidak hanya kita mendapat fisik yang prima, namun juga ridho Allah dan keselamatan dunia akhirat. Sebagai muslim, ridha Allah terletak di atas segala-galanya. Allah sangat menyukai orang yang berpuasa karena Allah, sehingga Allah menjanjikan gerbang khusus di surga bagi yang gemar berpuasa, yaitu Ar-Rayyan (H.R Muslim).
Maka dari itu, marilah kita galakkan dan rutinkan puasa-puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis dalam rangka meraih ridha Allah dan salah satu cara untuk meraih jannahNya. Insya Allah dengan puasa yang rutin, kita tidak hanya mendapat balasan di akhirat nanti, tetapi kita juga mendapat keuntungan di dunia berupa kesehatan yang prima dan daya pikir yang jernih.

Tuesday, 9 September 2014

Jenis Puasa dan Hukum Puasa




Assalamualaikum Wr Wb,
Puasa terkadang kita bertanya 2 hukumnya dan jenis puasa yang di anjurkan oleh islam. Oleh sebab itu, Islam Agamaku dan Agamamu akan memberi penjelasan sedikit tentang puasa wajib dan sunnah.

Apa saja macam-macam hukum hukum puasa?


Alhamdulillah,
hukum taklifi  (yang menuntut adanya perbuatan dan meninggalkan larangan) ada lima: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Kelima hukum ini ada dalam puasa. Kami tidak akan menguraikan semua hukum yang terdapat dalam hukum-hukum tersebut, akan tetapi kami akan sebutkan secukupnya saja.
Pertama: puasa wajib
1.      Puasa  Ramadan
2.      Qadha puasa Ramadan
3.      Puasa kafarat (tebusan hukuman). Yaitu; kafarat karena membunuh tidak sengaja, kafarat zihar (menyamakan punggung istri dengan ibunya, maksudnya tidak mau menggaulinya lagi), kafarat berhubungan badan di siang hari pada bulan Ramadan dan kafarat sumpah.
4.      Puasa orang yang menunaikan haji tamattu, sedangkan dia tidak mampu menyembelih hadyu (seekor kambing). Firmna Allah: “Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.” (QS. Al-Baqarah: 196)
5.      Puasa nazar
Kedua: Puasa Sunnah
1) Puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharam), 2) Puasa hari Arafah 3) Puasa senin Kamis setiap minggu  4) Puasa tiga hari setiap bulan 5) Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban 6) Puasa enam hari di bulan Syawwal  7) Puasa pada bulan Muharam 8) Puasa sehari dan berbuka sehari, dan ini adalah puasa yang terbaik
Semua itu telah dinyatakan dalam hadits hasan dan shahih, (semuanya) sudah ada di website.
Ketiga: Puasa Makruh
1.      Mengkhususkan berpuasa pada hari Jum’at. Berdasarkan sabda Nabisallallahu ’alaihi wa sallam:
لا تصوموا يوم الجمعة إلا أن تصوموا يوماً قبله أو يوماً بعده (متفق عليه)
“Janganlah engkau semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Jum’at kecuali engkau semua berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Muttafaq alaih)
2.      Mengkhususkan berpuasa pada hari Sabtu, Berdasarkan sabda Rasulullahsallallahu ’alaihi wa sallam:
لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلا لِحَاءَ عِنَبَةٍ أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ   )وحسَّنه وأبو داود، رقم 2421  وابن ماجه، رقم  1726،  وصححه الألباني في "إرواء الغليل" رقم 960k رواه الترمذي، رقم 744)
“Janganlah kamu semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Sabtu kecuali apa yang Allah wajibkan kepada kamu semua. Kalau sekiranya salah seorang di antara kamu tidak mendapatkan kecuali kulit anggur atau pelepah pohon (untuk berbuka, maka berbukalah dengannya).”
(HR.Tirmizi, no. 744 dihasankan oleh Abu Daud, no.  2421, Ibnu Majah, no. 1726 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab Irwaul Ghalil, no. 960.” Tirmizi mengomentari: ”Makna karohiyah dalam masalah ini adalah apabila seseorang mengkhususkan berpuasa pada hari Sabtu, karena kaum Yahudi mengagungkan hari Sabtu.”)
Keempat: Puasa Haram
1. Puasa pada hari Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari setelah hari nahar (Idul Adha).
2. Berpuasa pada hari yang meragukan. Yaitu hari ketiga puluh pada bulan Sya’ban, saat di langit ada sesuatu yang menghalangi untuk melihat hilal (bulan tsabit awal bulan). Adapun jika kondisi langit terang, maka tidak ada keragu-raguan.
3. Puasa wanita yang sedang haid atau nifas
Kelima: Puasa Mubah
yaitu yang tidak termasuk pada empat pembagian tadi. Maksud dari mubah disini adalah berpuasa pada hari yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang untuk berpuasa  secara khusus. Seperti hari Selasa dan Rabu. Meskipun asal dari berpuasa adalah ibadah sunnah.
Silahkan lihat buku Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 28/10-19, dan Asy-Syarhu Al-Mumti’, 6/457-483
Wallahu’alam .

Thursday, 7 August 2014

Puasa Syawal (Puasa Setelah hari Raya Idul Fitri)

Assalamualaikum Wr Wb


Puasa Syawal adalah puasa yang dilakukan pada bulan Syawal (setelah puasa Ramadhan) selama 6 hari. Hukum Puasa 6 Hari Bulan Syawal adalah sunnah.




salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …
“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)
Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

DALIL DASAR PUASA 6 (ENAM) HARI BULAN SYAWAL

- Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله

Artinya: Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh.

- Hadits riwayat Nasa'i

جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة
Artinya: Allah menjadikan kebaikan dengan 10 kali lipat. Maka satu bulan sama dengan 10 bulan. Dan puasa enam hari sama dengan setahun penuh.

- Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah

صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة
Artinya: Puasa sebulan Ramadan pahalanya 10x lipat. Puasa enam hari bulan Syawal sama dengan dua bulan. Maka jumlahnya sama dengan setahun penuh.

Dianjurkan untuk ber - Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Puasa sunnah pada bulan Syawal adalah pada 6 (enam) hari setelah hari lebaran Idul Fitri yaitu pada tanggal 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Namun dapat juga melakukannya selama 6 hari pada tanggal/hari yang lain asalkan masih dalam bulan Syawal.

Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.
Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan Syawal?
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.
Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)
Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)
Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.
Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!
Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah
Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)
Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Tuesday, 15 July 2014

Beberapa Keuntungan Puasa

Berpuasa didefinisikan sebagai periode tubuh yang pantang mengasup semua jenis makanan atau makanan tertentu. Bertolak belakang dengan persepsi bahwa berpuasa memburuk kesehatan tubuh, puasa justru memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Menurut AJ Carlson, Profesor Fisiologi di Universitas Chicago seperti dikutip dari MedIndia menyatakan, orang sehat dan tidak memiliki masalah stres serta gangguan emosi dapat bertahan tanpa makanan selama 50-75 hari.

Setiap pon lemak manusia setara dengan 3.500 kalori yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas fisik berat seharian. Berikut beberapa efek positif berpuasa.

Menyembuhkan dengan cepat
Hari-hari awal berpuasa merupakan fase tersulit. Tubuh akan mengeluarkan sejumlah besar racun melalui aliran darah, pori dan organ pembuangan lain. Ini terlihat dari menebalnya lapisan lidah dan nafas yang biasanya lebih berbau pada hari-hari pertama.

Setelah puasa berlanjut pada hari-hari setelahnya, proses pembersihan tubuh disempurnakan. Lemak tubuh yang tidak bermanfaat, racun yang terakumulasi dalam sel tubuh akan dikeluarkan. Sel yang sakit, sel-sel mati, lapisan lendir menebal di dinding usus, limbah aliran darah dikeluarkan lewat hati, limpa, dan ginjal.

Tubuh akan menggunakan mineral penting dan vitamin untuk membuang racun dan jaringan tua. Saat beban racun tubuh berkurang, efisiensi setiap sel ditingkatkan. Sehingga mempercepat proses penyembuhan dan sekaligus menghemat energi.

Lebih Energik
Mengapa orang merasa lebih energik setelah berpuasa? Selain itu, rasa lapar orang yang berpuasa berkurang dibandingkan saat normal.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa tubuh memerlukan energi besar untuk mencerna makanan. Puasa mengistirahatkan sistem pencernaan. Sehingga energi disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh.

Energi akan digunakan untuk membersihan dan detoksifikasi usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit. Puasa meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan fisik dan mental serta  meremajakan tubuh.

Manfaat khusus
- Mengatasi kecanduan kafein, rokok, nikotin, narkoba dan alkohol.
- Puasa membantu menurunkan kadar kolesterol.
- Puasa mengurangi gangguan sistem pencernaan seperti sembelit, kembung, dan gastritis.
- Puasa dengan kontrol pada penderita diabetes membuat perubahan gaya hidup dan pola makan sehingga akan memperbaiki kondisi mereka.
- Puasa meningkatkan kewaspadaan mental. Racun yang dibersihkan dari sistem limfatik meningkatkan konsentrasi dan energi untuk melakukan aktivitas.

Monday, 14 July 2014

CARA AGAR TIDAK BATAL PUASA



Dikarenakan mau mengejar pahala puasa, kita percaya saja sama semua pembicaraan orang tentang hal-hal yang katanya bisa ngebatalin puasa. Nah, biar enggak salah kaprah, saya sengaja bertanya pada Ustadz Rully Firmansyah yang sering mengisi ceramah buat remaja di sekolah-sekolah, apa saja sih hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita lakukan supaya puasa enggak batal...

-nangis = X
Nangis enggak bikin batal puasa. Kecuali pas kita nangis, airmata turun ke mulut, terus tertelan. He he he. Itu baru ngebatalin puasa. Kalau kita nangis sampai lemas dan membutuhkan asupan makanan, misal ada keluarga yang meninggal, lebih baik batalkan saja.

-sikat gigi sebelum buka puasa = X
Menggosok gigi ketika puasa bisa dikatakan makruh. Artinya kalau kita kerjakan, ya, enggak apa-apa. Tapi akan lebih baik kalau ditinggalkan.

-berdarah terkena luka = X
Kalau berdarah, tapi enggak parah lukanya, dan tidak membuat kita kehilangan tenaga, ya, berikan saja sedikit obat merah.  Kecuali kalau luka tersebut bikin kita sakit dan memar-memar, lebih baik batalkan saja puasanya.

-menelan ludah = X
Akan batal kalau kita kumpulkan air ludah, terus ditelan. Nah, itu baru batal, karena niatnya sengaja menelan air. Tapi enggak akan batal kalau kita tanpa sengaja menelan ludah. Itu, sih, enggak bikin kita batal puasa.

-mengupil atau mengorek kuping = X
Yang ini juga enggak bikin batal karena mengupil atau mengorek kuping enggak punya efek apa-apa sama puasa kita. Apalagi kalau pagi-pagi telinga kita gatal, sehingga mengganggu aktivitas kita seharian. Daripada telinga gatal, melakukan apa-apa jadi enggak konsentrasi, ya, korek saja.

-mencicipi makanan = √
Termasuk membatalkan puasa karena saat kita merasakan rasa makanan bukan hanya berhenti di lidah saja. Rasa manis yang dirasakan oleh lidah, akan disampaikan oleh saraf ke otak. Sehingga seluruh tubuh kita merasakannya.

-berenang = X
Enggak akan membatalkan puasa selama kita enggak menyelam sambil minum air. He he he. Cuma memang berenang itu, kan, dekat-dekat sama air. Jadi sebaiknya dihindari daripada enggak sengaja tertelan.

-disuntik = √
Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah memasukkan sesuatu melewati kerongkongan atau ke dalam tubuh. Baik itu berupa minuman, makanan, maupun dengan memasukkan cairan seperti transfusi darah, suntik atau infus. Lagipula, kalau sampai harus disuntik mah, enggak usah puasa dulu atuh. He he he.

-mimisan = X
Enggak batal, kok. Tapi kalau mimisan keluar karena kita sakit dan terlalu capai, mending dibatalin saja. Puasa, kan, bisa diganti lain hari. Khawatirnya kalau kita maksa puasa, ruginya malah tambah banyak. Kita tambah sakit dan malah jadi enggak bisa puasa di bulan ramadhan.

-keluar flek = √
Kita, kan, sudah tahu tanggal kapan kita biasa menstruasi. Kalau fleknya dekat-dekat tanggal menstruasi, lebih baik batalkan. Tapi kalau fleknya masih jauh dari tanggal kita menstruasi, jangan batalkan. Apalagi kalau kita yakin itu hanya keputihan.

-muntah = X
Kalau muntah dengan sengaja, artinya kita sudah batal puasa. Lain lagi misalnya saking enggak tahan dengan bau bensin, terus kita muntah. Kalau hal tersebut enggak bikin kita lemas, lebih baik lanjutkan saja puasanya.

-marah = X
Puasa kita enggak akan batal, tapi yang batal adalah pahala puasa. Misal, sepuluh hari pertama puasa kita lancar-lancar saja. Suatu hari, tanpa sengaja kita marah sama teman sampai bikin dia sakit hati banget. Puasa kita enggak batal, tapi pahala di hari pertama, kedua, dan ketiga kita bisa hilang. Yaaa... sayang banget, yak

-menjelek-jelekan orang = X
Sama seperti marah, menjelek-jelekan orang atau bergosip juga enggak membatalkan puasa kita. Tapi hal ini dapat membuat pahala yang telah kita kumpulkan hilang. Sayang banget, kan, amal dan ibadah yang sudah kita jalankan kalau mesti hilang hanya karena kita bergosip?

-minum dan makan = X
Eits, minum dan makan kali ini dilakukan karena enggak sengaja. Pas bangun dari tidur siang, tanpa sadar kita ke dapur terus minum. Nah, selesai minum, baru deh kita ingat kalau kita sedang puasa. Kalau begini kasusnya, enggak termasuk batal kok, gals. Kita bisa melanjutkan puasa, asal jangan diterusin minum atau makannya, ya.

-menyiram tubuh dengan air untuk mengurangi rasa panas = X
Berenang saja enggak membuat batal, apalagi cuma mandi. Tapi sekali lagi, airnya jangan ikut diminum, ya, hi hi hi...

Sudah enggak bingung, kan, tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa? Kalau kita masih punya beberapa pertanyaan, bisa add Facebook Ust. Rully. Tinggal ketik nama Rully Firmansyah dan tanya, deh. Ssstt, ustadz yang ini asyik dan gaul berat. Hi hi hi.Okay, gals, happy fasting!